Langsung ke konten utama

Efek Rumah Kaca : Ketika Musik Menjadi Alat Perlawanan dan Ketidakadilan

 


Teruntuk anak 2000-an jika ditanya mengenai band favorit rata-rata akan mejawab Dewa 19, Sheila On 7, Slank dan Peterpan, band yang legendaris yang tak lekang oleh zaman. Tetapi ada satu band yang hingar-bingarnya tidak terlalu didengar oleh sebagian orang, Efek Rumah Kaca nama yang cukup terkenal bagi pemerhati lingkungan. Tetapi bagi sebagian orang Efek Rumah Kaca menjadi salah satu band yang memiliki daya magis dalam setiap lagunya, lagu-lagu dari band ini bermuatan isu-isu sosial, lingkungan hingga politik. Sekaligus mewakili suara-suara rakyat yang dibungkam dalam menyuarakan ketimpangan dan ketidakadilan di negeri ini.

    Formasi awal band ini terdiri dari Cholil Mahmud (vokalis dan gitaris), Adrian Yunan (bass dan vocal latar) dan Akbar Bagus (Drummer). Setelah Adrian memutuskan untuk meninggalkan Efek Rumah Kaca (ERK) dengan isu kesehatan pada tahun 2011, posisinya digantikan oleh Poppie Airil sampai akhirnya ERK menjadi empat orang disusul Reza Ryan. Meskipun mengalami pergantian personel, band ini tetap mempunyai idealis dan eksistensi yang tetap terjaga hingga kini.

    Tepatnya pada tahun 2007 album pertama yang berjudul Efek Rumah Kaca mengudara memecah industri musik tanah air. Kala itu, di tengah dominasi musik bergenre hip-hop sampai dengan RnB, ERK tumbuh dengan lirik-lirik yang cara penyajiannya begitu mendayu-dayu dan syarat akan makna. “Desember” lagu yang mengajak pendengarnya untuk berkotemplasi dan memiliki makna sosial, kala itu terjadi bencana di Jakarta dalam salah satu artikel menyebutkan bahwa Cholil Mahmud mengungkapkan lagu ini sebagai bentuk duka dan doa untuk para korban. “Di Udara” merupakan persembahan untuk aktivitis HAM Munir Said Thalib yang diracun pada saat akan tiba di Amsterdam. Hingga kini lagu tersebut masih sering berkumandang sebagai bentuk perlawanan pada aksi kamisan.

“Aku sering diancam

Juga teror mencekam

Kerap ku disingkirkan

Sampai di mana ? Kapan?”

“Ku bisa tenggelam di lautan

Aku bisa diracun di udara

Aku bisa terbunuh di trotoar jalan”

    Di tahun berikutnya 2008 ERK merilis album kedua berjudul Kamar Gelap pada album ini penyampaian lirik bergitu tajam. Lagu “Mosi Tidak Percaya” yang ditulis oleh personel ERK Akbar dan Adrian mengandung makna yang erat hubungannya dengan kebijakan semrawut yang dibuat oleh pemerintah. Selain lagu di Udara, Lagu ini pula sempat dilantangkan pada aksi kamisan. Aksi kamisan merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap korban pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia, seperti tragedi Semanggi, Trisakti, Tragedi 1998 dan Peristiwa Talagasari 1989. “Kenakalan Remaka di Era Informatika” menjadi kritik pada remaja maupun pengguna teknologi yang menyalahgunakan untuk hal yang melanggar norma-norma di era digital.

“Rekam dan memamerkan badan dan yang lainnya

Mungkin hanya untuk kenangan

Ketika birahi yang juara

Etika menguap entah kemana

Oh nafsu menderu deru bikin malu

Oh nafasu menderu deru susah maju”

    Jauh setelah itu tepatnya tujuh tahun kemudian ERK kembali merilis album ketiga “Sinestesia” pada tahun 2015. Jika Pramoedya Ananta Toer punya Teatrologi Pulau Buru sebagai karya fenomenal yang pernah ia tulis. Saya mencoba untuk mengklaim bahwa Sinestesia Efek Rumah Kaca menjadi “Magnum Opus” dalam skena permusikan Indonesia. Pada album ini total ada enam lagu yang berdurasi panjang, dengan aransemen lagu yang sangat kompleks dan cenderung pendengar seolah terbawa dalam buaian setiap bait liriknya. Selain itu tema yang terkandung di album ini tearah pada pencarian spiritual hingga eksistensi pada kehidupan. “Putih” mengisahkan perjalanan ruh meninggalkan jasad untuk pergi segera menuju alam lain di sisi tuhan. Lagu putih ini menurut penafsiran saya bertemakan “religi” untuk mengingatkan kita sejatinya kehidupan pasti akan berakhir.

“Saat kematian datang

Aku berbaring dalam mobil ambulans

Dengar, pembicaraan tentang pemakaman

Dan takdirku menjelang

Sirene berlarian bersahut-sahutan

Tegang, membuka jalan menuju tuhan

Akhirnya aku usai juga”

    “Kuning” menceritakan mengenai kondisi kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Lagu ini juga menyiratkan keprihatinan dalam pemahaman pada kalangan tokoh agama yang acap kali menggunakan kemasan yang kurang tepat dalam penyampaian hal-hal baik. Selain itu, lagu ini mengkritik pada mereka yang memecah belah perbedaan keyakinan sesuai dengan kelompok mereka sendiri. Dan pada akhirnya seluruh umat akan menghadap pada tuhan semesta alam pada saat hari pengadilan itu tiba.

“Bila matahari sepenggal jaraknya

Padang yang luas tak ada batasnya

Berarak beriringan

Berseru dan menyebut dia”

Selain dari kedua lagu di atas, pada album Sinestesia terdapat lagu Hijau, Jingga, Merah dan Biru.

    Januari 2020 ERK kembali mengudara, kali ini mengeluarkan mini album yang berjudul “Jalan Enam Tiga”. Pada mini album ini terdapat empat lagu Tiba-Tiba Batu, Normal Yang Baru, Jalan Enam Tiga dan Palung Mariana. Meskipun berbeda dari segi musikal dengan album sebelumnya, Cholil tetap blak-blakan dalam mengeskpresikan sikap dan pandanganya mengenai isu sosial dan pandangan politiknya. “Tiba-Tiba Batu” menjadi lagu pembuka pada mini album ini, lagu ini menggambarkan orang-orang yang kekeuh atau keras kepala terhadap pandangannya dalam suatu hal, meskipun itu belum tentu benar. Suatu realitas yang sering terjadi di kalangan masyarakat. “Normal Yang Baru” menurut pandangan penafsiran saya, lagu ini mengangkat isu yang sering terjadi di masyrakat mengenai kebohongan (Hoaks) dinormalisasi, masyrakat terlalu ditelan mentah-mentah isu yang terjadi tanpa danya Tabbayun terlebih dahulu. “Jalan Enam Tiga” yang juga judul dari mini album ini, menceritakan keadaan bahwa semua orang berhak mendapatkan perlakuan yang sama tanpa memandang hierarki status sosial. Di lagu ini terdapat tempo musikal yang ceria dan mengajak pendengarnya untuk berjingkrak-jingrak untuk mengekspresikan diri. “Palung Mariana” penafsiran saya pada lagu ini seorang Cholil yang berkotemplasi untuk membuat lirik yang puitis, tapi bisa diterima semua kalangan. Palung Mariana menjadi salah satu palung terdalam di dunia. Maka dari itu saya menafsirkan bahwa kedalaman hati atau perasaan seseorang takan akan pernah kita ketahui, kecuali dirinya sendiri dan pemiliki hati-Nya.

“Ada luka-luka

Tak terjangkau sesat

Kumenyelam membawahnya

Sesat

Di Palung Marian

Habis nafas”

    Januari 2023 ERK kembali merilis album yang berjudul Rimpang, Rimpang dalam KBBI berarti ; Renggang dan tidak tearah. Begitupun album ini ERK menciptakan nafas yang terus dipompa untuk melawan ketidakadilan di negeri ini dan sekaligus menggambarkan perjalanan baru bagi mereka. Rimpang yang kompleks, progresif serta penataan dalam lirik yang begitu membius pendengarnya. “Heroik” penggambaran kritik tajam tentang pahlawan kesiangan. Seolah-olah sedang membasmi kejahatan, namun sebenarnya ia ada yang mengendalikan, tampak seperti jagoan di mata masyarakat. Padahal ia hanyalah orang suruhan dari majikannya. “Tetaplah Terlelap” menjadi suatu antitesis penggambaran kaum yang mempunyai kekuasaan dengan rakyat jelata yang hidup dipinggiran gang-gang sempit.

“Jalan yang lengang

Sempit dalam gang

Kau berbaring di sana

Tengadah awan

Dambakan bintang

Masih rebah di sana

Jangan lekas terjaga”

    Morgue Vanguard di “Bersemi Sekebun” mewarnai sketsa lagu ERK dengan lirik yang lirih dalam menggaungkan perjuangan dalam melawan ketimpangan ;

“Pada yang perlahan padam

Ada sejenis api dari kemustahilan

Sejenis harapan yang datang dari pelan nyala sekam

Sejenis badai lahir dari rajutan bukan kepalan

Tak semua seruan harus dilantangkan

Serupa 98 di depan kodam

Dibisikan dalam geliat temaram yang bersenyawa dengan pitam

Menitipkan marwah bara pada kalam-kalam

Dalam diam menyumbang logam bagi godam

-

Adalah bentuk keluhuran

Merongrong kuasa yang tiran

Di jalan bersama kalian

Doa orang tua terngiang

Kawan bergandeng lengan

Harap jangan gelap kelam

    Efek Rumah Kaca bukan hanya band, tapi suatu entitas sekaligus wakil aspirasi rakyat dalan perlawanan terhadap isu-isu yang terjadi di Indonesia. Kehadiran ERK layaknya oase di tengah gurun pasir yang tandus, menyegarkan dan memanjakan. Efek Rumah Kaca menjelaskan secara eksplisit bahwa karya seni tidak hanya menghibur, tapi perlu mencerdaskan dan membebaskan penikmatnya untuk bereskpresi.

-

Ditulis oleh : M. Farhan Al Rasyid


Komentar