Langsung ke konten utama

Eksistensi Pendidikan Di Bawah Kekuasaan Rezim

Setiap orang tua mempunyai harapan agar anaknya bisa mengenyam pendidikan yang tinggi, mereka percaya dengan pendidikan dapat merubah nasib menuju lebih baik dan layak. Namun, hal tersebut masih menjadi impian jutaan orang tua di negeri ini. Peran pemangku kebijakan lah yang dapat merealisasikan mimpi tersebut. Sewaktu negara lain menyiapkan anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan layak agar bisa berpikir kritis, logis, dan percaya diri, anggaran di negara kita dihabiskan untuk investasi pada robot-robot yang tak berguna. Padahal, jika anggaran tersebut digelontorkan untuk dana pendidikan, mimpi jutaan orang tua di sana dapat terwujud. Tapi sudahlah, jika bukan prioritas, apa boleh buat. Rakyat merana, penguasa tertawa di atas singgasana. 

    Jutaan anak masih menunggu peran pemerintah, program Makan Bergizi Gratis (MBG) misalnya, penyebaran program ini masih belum merata padahal dicanangkan untuk seluruh anak di Indonesia. Sekalipun sudah dijalankan, tetap masih ada problema seperti, anak yang keracunan makanan hingga adanya pemangkasan dari pihak pengelola anggaran. Seharusnya kebijakan yang akan dibuat dikaji secara intensif terlebih dahulu, apakah program yang dibuat sudah sesuai dengan kebutuhan rakyat atau akan berdampak tak layak bagi rakyat? Perut diisi semena-mena sementara otak dibiarakan hampa. Kosong. Negara ini selalu tak sedia disetiap upaya dalam mencerdaskan bangsa, yang katanya diberi julukan generasi emas Indonesia. Pada akhirnya mimpi-mimpi anak bangsa harus berhadapan dengan ombak besar yang diberi nama kebijakan, sewaktu-waktu bisa menghempaskan impian ke gerbang kemunduran. 

    Bagaimana bisa menyiapkan generasi emas Indonesia jika pendidik masih mengemis gaji layak dan ditempa beban administrasi? Anak bangsa bertanya dengan cara apa kami bisa hidup tenang, layak tanpa adanya gangguan eksternal, jika negara ini masih memperbudak ketiadakadilan. Anak bangsa kembali bertanya, bagaimana kami bisa mendapatkan nilai luhur yang menjunjung keadilan, jika Pancasila saja masih sebatas cita-cita. Lagi dan lagi generasi emas Indonesia muak dengan pemberitaan penguasa di negeri ini, kolusi, korupsi dan nepotisme masih merajarela. Generasi cerdas masih mengais harapan di tengah negara yang sedang suram. Sebenarnya rakyat mempunyai wakil di tengah kekuasaan, tetapi mereka hanya mementingkan aspirasi dari rakyat yang mempunyai jabatan. Mengutamakan diri sendiri. Buta terhadap suara rakyat yang seutuhnya. 

    Sumber daya alam dibabat habis, suara rakyat tak lagi nyaring terdengar. Tapi mereka lupa, bahwa negara ini diciptakan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan keluarga. Masa depan anak bangsa nampaknya gelap, kerusakan alam dan tunggakan yang menjadi warisan. Di tengah carut-marut, ada setitik harapan untuk menjadikan anak bangsa berpedoman pada nilai sosial dan prinsip kebajikan tuhan. Kelak semua ini dapat membentuk anak bangsa menjadi insan yang kritis dan resah. 

    Resah terhadap penyelewengan anggaran. Perasaan campur aduk melihat rakyat menjadi korban kezaliman. Pikiran yang terpecah untuk mencari keadilan. Banyaknya perlawan bak peristiwa besar 98’. Hingga akhirnya bermuara pada “Pendidikan tinggalah kenangan” Memilih menetap di negara yang tak menjadikan pendidikan sebagai prioritas sama dengan kemunduran. 

    Ada doa Ibu yang tulus, agar negeri ini lepas dari ketidakpastian, do aitu memecah belah langit menuju singgasana-Nya. Anak bangsa merangkaklah terus susuri jalan kehidupan. Lawan ketidakadilan. Keberuntungan akan terus ada. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Meaning Of Love

Pada dasarnya rasa cinta kasih perlu pembuktian serta kewarasan perasaan. Sepasang kekasih akan saling senantiasa menjaga satu sama lain, perbedaan pemikiran, perbedaan status sosial, sampai perbedaan kepercayaan akan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh dua insan yang saling mencintai. Tapi, hal itu bukan menjadi suatu tembok penghalang, kekurangan dalam hal fisik dan cara pandang tetap akan bisa diterima, karena hakikatnya rasa cinta kasih terletak pada hati yang tulus. Setiap hubungan yang dijalin akan sampai pada puncak pembuktian atau suatu keikhlasan entah menikah atau berpisah. Dalam hubungan cinta kasih, akan ada seseorang yang datang dan pergi atau bisa jadi kembali, entahlah. Hal itu menjadi suatu realitas yang normal terjadi. Pada setiap hubungan yang baru terjalin akan ada “Janji suci” untuk tak saling pergi. Tapi, takdir ilahi yang menentukan. Jika diantaranya pergi, bagi sebagian orang akan menjadi suatu “Bencana hati’’ yang membutuhkan waktu untuk dilakukan prose...

Rayuan Harun

Harun adalah seorang buruh ladang sayuran. Setiap pagi, selepas melaksanakan salat Subuh, ia bergegas menuju ladang untuk menyiram dan memberikan vitamin pada sayuran. Terkadang, tugasnya adalah memetik sayuran yang dimakan oleh hama. Usianya 26 tahun, dan selama 10 tahun terakhir ia bekerja sebagai buruh ladang. Beruntung, ia memiliki tuan yang amat bijaksana. Bagi Harun, pendidikan bagaikan angin lalu—faktor ekonomi membuatnya enggan untuk melanjutkan sekolah. Di suatu malam, Harun terbangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 02.38. Entah bisikan dari mana, ia lekas mengambil air wudu dan melaksanakan salat untuk merayu Tuhan-Nya. Ia berdoa meminta keselamatan dunia dan akhirat, memohon jodoh, karier, hingga keberkahan bagi ladang yang ia urus. Dengan bercucuran air mata, ia terus menerus meminta. Hingga akhirnya, ia kembali terlelap—dan tak pernah bangun lagi. Malaikat dan Tuhan tersenyum melihat tingkahnya. Harun akhirnya tiba di tempat tertinggi. Kedua tangannya digandeng oleh m...

Bandung dan Renjana

               Jika mendengar kata bandung, benaku sering tertuju pada sebuah kota yang didalamnya terdapat jutaan kisah maupu kasih. Ada banyak hal yang ku alami dikota ini mulai dari pahit hingga manis, sedikit berlebihan sih, hingga tulisan ini dibuat, 2 tahun sudah setelah lulus sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk mengenyam pendidikan disalah satu Universitas Swasta di kota ini. Bukan tanpa sebab kota ini amat sangat berkesan bagi saya pribadi, mulai dari keluarga, kawan, lawan, kasih, kisah, akang,bapak, kakak, teteh, abah. Ahh amat sangat sukar bila di sebutkan satu persatu. Yang jelas ada banyak orang hebat yang membantu ku untuk bisa menjadi manusia yang utuh, terima kasih atas semua rangkulan dan pengakuan, semoga semuanya abadi.           Sukabumi-Bandung dan roda dua, bagiku bukan hal yang aneh, setiap saat pergi ke bandung dengan roda dua, pikiran ini seakan berkata “bandung aku datang” ...