Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Efek Rumah Kaca : Ketika Musik Menjadi Alat Perlawanan dan Ketidakadilan

  Teruntuk anak 2000-an jika ditanya mengenai band favorit rata-rata akan mejawab  Dewa 19, Sheila On 7, Slank  dan  Peterpan , band yang legendaris yang tak lekang oleh zaman. Tetapi ada satu band yang hingar-bingarnya tidak terlalu didengar oleh sebagian orang, Efek Rumah Kaca nama yang cukup terkenal bagi pemerhati lingkungan. Tetapi bagi sebagian orang Efek Rumah Kaca menjadi salah satu band yang memiliki daya magis dalam setiap lagunya, lagu-lagu dari band ini bermuatan isu-isu sosial, lingkungan hingga politik. Sekaligus mewakili suara-suara rakyat yang dibungkam dalam menyuarakan ketimpangan dan ketidakadilan di negeri ini.      Formasi awal band ini terdiri dari Cholil Mahmud (vokalis dan gitaris), Adrian Yunan (bass dan vocal latar) dan Akbar Bagus (Drummer). Setelah Adrian memutuskan untuk meninggalkan Efek Rumah Kaca (ERK) dengan isu kesehatan pada tahun 2011, posisinya digantikan oleh Poppie Airil sampai akhirnya ERK menjadi empat orang dis...

Eksistensi Pendidikan Di Bawah Kekuasaan Rezim

Setiap orang tua mempunyai harapan agar anaknya bisa mengenyam pendidikan yang tinggi, mereka percaya dengan pendidikan dapat merubah nasib menuju lebih baik dan layak. Namun, hal tersebut masih menjadi impian jutaan orang tua di negeri ini. Peran pemangku kebijakan lah yang dapat merealisasikan mimpi tersebut. Sewaktu negara lain menyiapkan anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan layak agar bisa berpikir kritis, logis, dan percaya diri, anggaran di negara kita dihabiskan untuk investasi pada robot-robot yang tak berguna. Padahal, jika anggaran tersebut digelontorkan untuk dana pendidikan, mimpi jutaan orang tua di sana dapat terwujud. Tapi sudahlah, jika bukan prioritas, apa boleh buat. Rakyat merana, penguasa tertawa di atas singgasana.       Jutaan anak masih menunggu peran pemerintah, program Makan Bergizi Gratis (MBG) misalnya, penyebaran program ini masih belum merata padahal dicanangkan untuk seluruh anak di Indonesia. Sekalipun sudah dijalankan, tetap masih...

Pendidikan "Semrawut" Indonesia

Bagian 1 : Siswa Berusaha dalam Keterbatasan      Sekolah menjadi media siswa untuk mengekspresikan diri, bersosialisasi, bertumbuh dan membentuk karakter diri. Di sekolah, siswa menggantungkan asa untuk meraih cita-cita yang didambakan-nya, mereka mendapatkan bimbingan, arahan serta pengajaran dari guru, staff, sampai penjaga kantin. Karena pada dasarnya seluruh warga sekolah merupakan fasilitator dalam memberikan ilmu, siswa bisa mendapatkan pengajaran dari berbagai macam sudut pandang.        Selama bersekolah, siswa senantiasa membiasakan diri bangun se-pagi mungkin untuk lekas menuju sekolah. Sebagian besar siswa di perkotaan menganggap ketakutan mereka di pagi hari ialah ringkihan bel tanda jam sekolah sudah dimulai. Jika siswa melewatkan bel berbunyi pada saat masih di luar sekolah, mereka harus siap diberi “reward” yang beragam oleh sang “algojo” mulai dari hukuman fisik , “operasi semut” sampai tadarus Al-Quran. Berbanding terbalik dengan sek...

Rayuan Harun

Harun adalah seorang buruh ladang sayuran. Setiap pagi, selepas melaksanakan salat Subuh, ia bergegas menuju ladang untuk menyiram dan memberikan vitamin pada sayuran. Terkadang, tugasnya adalah memetik sayuran yang dimakan oleh hama. Usianya 26 tahun, dan selama 10 tahun terakhir ia bekerja sebagai buruh ladang. Beruntung, ia memiliki tuan yang amat bijaksana. Bagi Harun, pendidikan bagaikan angin lalu—faktor ekonomi membuatnya enggan untuk melanjutkan sekolah. Di suatu malam, Harun terbangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 02.38. Entah bisikan dari mana, ia lekas mengambil air wudu dan melaksanakan salat untuk merayu Tuhan-Nya. Ia berdoa meminta keselamatan dunia dan akhirat, memohon jodoh, karier, hingga keberkahan bagi ladang yang ia urus. Dengan bercucuran air mata, ia terus menerus meminta. Hingga akhirnya, ia kembali terlelap—dan tak pernah bangun lagi. Malaikat dan Tuhan tersenyum melihat tingkahnya. Harun akhirnya tiba di tempat tertinggi. Kedua tangannya digandeng oleh m...