Pada
dasarnya rasa cinta kasih perlu pembuktian serta kewarasan perasaan. Sepasang
kekasih akan saling senantiasa menjaga satu sama lain, perbedaan pemikiran,
perbedaan status sosial, sampai perbedaan kepercayaan akan menjadi tantangan
yang harus dihadapi oleh dua insan yang saling mencintai. Tapi, hal itu bukan
menjadi suatu tembok penghalang, kekurangan dalam hal fisik dan cara pandang
tetap akan bisa diterima, karena hakikatnya rasa cinta kasih terletak pada hati
yang tulus. Setiap hubungan yang dijalin akan sampai pada puncak pembuktian
atau suatu keikhlasan entah menikah atau berpisah.
Dalam
hubungan cinta kasih, akan ada seseorang yang datang dan pergi atau bisa jadi
kembali, entahlah. Hal itu menjadi suatu realitas yang normal terjadi. Pada
setiap hubungan yang baru terjalin akan ada “Janji suci” untuk tak saling
pergi. Tapi, takdir ilahi yang menentukan. Jika diantaranya pergi, bagi
sebagian orang akan menjadi suatu “Bencana hati’’ yang membutuhkan waktu untuk
dilakukan proses “Trauma Healing” sampai benar-benar sembuh. Pembuktian
dalam cinta kasih dilakukan dengan cara pemberian atau perayaan yang menjadi
suatu modal untuk memperpanjang masa kasih dalam hubungan. Laki-laki diciptakan
dengan berlandaskan logika harus selalu menjaga pola penalaran dan perlakuan
untuk memahami seorang perempuan. Sedangkan perempuan diciptakan dengan
didominasi perasaan sensitif dan memiliki fitrah sebagai seorang penenang yang
harus dapat menjadi peredam laki-laki. Setiap insan memiliki sifat dan
karakter yang berbeda-beda, dengan diciptakannya dua insan ini bertujuan untuk
saling melengkapi satu sama lain dalam segala hal.
Beruntungnya
kita sebagai makhluk ciptaan sang Khalik diberikan perasaan yang tertanam dalam
diri. Realitas yang terjadi pada dasarnya adalah sebuah perubahan dari makhluk dan
berkaitan dengan catatan dalam kitab kejadian alam semesta (Lauhul Mahfudz).
Perubahan dilakukan oleh manusia untuk mencari ketentraman dalam hidup yang
sesuai dengan ketetapannya. Ibadah menjadi suatu pembuktian dan usaha yang
nyata bagi setiap insan pada sang pencipta, salah satunya dengan menyempurnakan
ibadah dengan menikah. Bahtera rumah tangga dijalin seperti sebuah sampan yang
dikayuh di lautan lepas untuk menuju sebuah tujuan. Tapi untuk mencapai tujuan
itu tidaklah mudah, akan ada badai serta ombak yang seolah-olah ingin
menggulung seluruh sampan dan isinya. Apakah kita siap untuk saling berpegangan
erat ?
Baca juga : Negara Merdeka ?
Pengorbanan untuk membuktikan rasa sayang kadang sering dipandang sebelah mata seperti halnya kisah perjuangan Zainuddin dalam meluluhkan hati seorang Hayati, Zainuddin berbaring lemas demam bukan kepalang setelah mengetahui pujaan hatinya (Hayati) berlabuh pada hati seorang bangsawan. Atau seperti perjuangan kisah cinta Aminuddin dan Mariamin yang berujung petaka, serta kisah tragis memendam kenangan pada diri Soeraja dan Jeng Yah. Walaupun beberapa penceritaan tersebut merupakan karya sastra, tetapi kita patut mengambil ruang untuk merenungi kisah pilu seorang pujangga cinta dalam kisah karya sastra. Selain itu, Aku sempat mendengar kisah tentang Ali Bin Abi Thalib, beliau mengangkat beban pintu khaibar yang beratnya 900 Kg seorang diri. Tapi saat istrinya Fatimah R.A. wafat ia merintih sambil berucap “Tolong bantu aku membawanya”. Ketika kekuatan fisik dikalahkan dengan kekuatan perasaan, tak seorang pun dapat membohongi dirinya sendiri. Kita sebetulnya berhak mencintai dan menyayangi. Tetapi pesan yang disampaikan Malaikat Jibril pada Rasullah perlu di higlight “Cintailah siapa yang kamu suka karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya” kalimat yang sekilas sederhana namun berarti, bahwa sejatinya dua orang yang menjalin cinta kasih akan berpisah atau mungkin bertemu kembali di padang yang luas dan tak ada batas.
Kita sering berharap mendapatkan
jodoh yang cantik/ganteng, soleh/solehah, mapan dan sebagainya, ekspektasi itu muncul
ketika sedang berhalusinasi. Tapi kalau dapet jodohnya kematian gimana? bakal
protes sama Tuhan ? agak menohok sih. Gaada yang tau ke depannya akan seperti apa
karena hidup yang digarisin terlalu banyak plot twist siap-siap aja
untuk dapetin apa yang kita butuhin termasuk juga mengenai jodoh. Kalau belum
punya calon yang harus dibanggain, masih ada diri yang perlu diapresiasi yang
bertahan sampai sejauh ini. Perihal pasangan serahin aja ke pemilik hati yang
sebenernya. Sembari kitanya memantaskan diri dalam segi ekonomi, religiositas,
serta cara pandang yang berkaitan dengan keteguhan hati.
Baca juga : Vertikal
Semoga semuanya dipersatukan, semoga
semuanya bisa menerima, semoga bisa erat sampai maut mendekat. Kita berbeda untuk
mempersatukan, kita mendekap dalam satu atap, kita berbeda untuk saling bukan
untuk berpaling. Igauanmu akan menjadi teman setia tidurku, kulitmu yang keriput
menjadi penanda lamanya kisah kita, buah hati yang tumbuh dan bermain riang
jadi harapan kita untuk tetap hidup. Terima kasih, semoga semuanya menjadi
kisah. Kalau "Meaning of Love" versi kalian apa ? bolehlah sikit tulis di kolom komentar. Hehehe
-M.
Farhan Alrasyid
Udah
segitu aja dulu, nanti yang lainnya nyusul. Kalau lagi mau itu juga.
Komentar
Posting Komentar