Langsung ke konten utama

The Meaning Of Love

Pada dasarnya rasa cinta kasih perlu pembuktian serta kewarasan perasaan. Sepasang kekasih akan saling senantiasa menjaga satu sama lain, perbedaan pemikiran, perbedaan status sosial, sampai perbedaan kepercayaan akan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh dua insan yang saling mencintai. Tapi, hal itu bukan menjadi suatu tembok penghalang, kekurangan dalam hal fisik dan cara pandang tetap akan bisa diterima, karena hakikatnya rasa cinta kasih terletak pada hati yang tulus. Setiap hubungan yang dijalin akan sampai pada puncak pembuktian atau suatu keikhlasan entah menikah atau berpisah.

Dalam hubungan cinta kasih, akan ada seseorang yang datang dan pergi atau bisa jadi kembali, entahlah. Hal itu menjadi suatu realitas yang normal terjadi. Pada setiap hubungan yang baru terjalin akan ada “Janji suci” untuk tak saling pergi. Tapi, takdir ilahi yang menentukan. Jika diantaranya pergi, bagi sebagian orang akan menjadi suatu “Bencana hati’’ yang membutuhkan waktu untuk dilakukan proses “Trauma Healing” sampai benar-benar sembuh. Pembuktian dalam cinta kasih dilakukan dengan cara pemberian atau perayaan yang menjadi suatu modal untuk memperpanjang masa kasih dalam hubungan. Laki-laki diciptakan dengan berlandaskan logika harus selalu menjaga pola penalaran dan perlakuan untuk memahami seorang perempuan. Sedangkan perempuan diciptakan dengan didominasi perasaan sensitif dan memiliki fitrah sebagai seorang penenang yang harus dapat menjadi peredam laki-laki. Setiap insan memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda, dengan diciptakannya dua insan ini bertujuan untuk saling melengkapi satu sama lain dalam segala hal. 

Beruntungnya kita sebagai makhluk ciptaan sang Khalik diberikan perasaan yang tertanam dalam diri. Realitas yang terjadi pada dasarnya adalah sebuah perubahan dari makhluk dan berkaitan dengan catatan dalam kitab kejadian alam semesta (Lauhul Mahfudz). Perubahan dilakukan oleh manusia untuk mencari ketentraman dalam hidup yang sesuai dengan ketetapannya. Ibadah menjadi suatu pembuktian dan usaha yang nyata bagi setiap insan pada sang pencipta, salah satunya dengan menyempurnakan ibadah dengan menikah. Bahtera rumah tangga dijalin seperti sebuah sampan yang dikayuh di lautan lepas untuk menuju sebuah tujuan. Tapi untuk mencapai tujuan itu tidaklah mudah, akan ada badai serta ombak yang seolah-olah ingin menggulung seluruh sampan dan isinya. Apakah kita siap untuk saling berpegangan erat ?

Baca juga : Negara Merdeka ?

Pengorbanan untuk membuktikan rasa sayang kadang sering dipandang sebelah mata seperti halnya kisah perjuangan Zainuddin dalam meluluhkan hati seorang Hayati, Zainuddin berbaring lemas demam bukan kepalang setelah mengetahui pujaan hatinya (Hayati) berlabuh pada hati seorang bangsawan. Atau seperti perjuangan kisah cinta Aminuddin dan Mariamin yang berujung petaka, serta kisah tragis memendam kenangan pada diri Soeraja dan Jeng Yah. Walaupun beberapa penceritaan tersebut merupakan karya sastra, tetapi kita patut mengambil ruang untuk merenungi kisah pilu seorang pujangga cinta dalam kisah karya sastra. Selain itu, Aku sempat mendengar kisah tentang Ali Bin Abi Thalib, beliau mengangkat beban pintu khaibar yang beratnya 900 Kg seorang diri. Tapi saat istrinya Fatimah R.A. wafat ia merintih sambil berucap “Tolong bantu aku membawanya”. Ketika kekuatan fisik dikalahkan dengan kekuatan perasaan, tak seorang pun dapat membohongi dirinya sendiri. Kita sebetulnya berhak mencintai dan menyayangi. Tetapi pesan yang disampaikan Malaikat Jibril pada Rasullah perlu di higlight “Cintailah siapa yang kamu suka karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya” kalimat yang sekilas sederhana namun berarti, bahwa sejatinya dua orang yang menjalin cinta kasih akan berpisah atau mungkin bertemu kembali di padang yang luas dan tak ada batas.  

      Kita sering berharap mendapatkan jodoh yang cantik/ganteng, soleh/solehah, mapan dan sebagainya, ekspektasi itu muncul ketika sedang berhalusinasi. Tapi kalau dapet jodohnya kematian gimana? bakal protes sama Tuhan ? agak menohok sih. Gaada yang tau ke depannya akan seperti apa karena hidup yang digarisin terlalu banyak plot twist siap-siap aja untuk dapetin apa yang kita butuhin termasuk juga mengenai jodoh. Kalau belum punya calon yang harus dibanggain, masih ada diri yang perlu diapresiasi yang bertahan sampai sejauh ini. Perihal pasangan serahin aja ke pemilik hati yang sebenernya. Sembari kitanya memantaskan diri dalam segi ekonomi, religiositas, serta cara pandang yang berkaitan dengan keteguhan hati.  

    Baca juga : Vertikal

            Semoga semuanya dipersatukan, semoga semuanya bisa menerima, semoga bisa erat sampai maut mendekat. Kita berbeda untuk mempersatukan, kita mendekap dalam satu atap, kita berbeda untuk saling bukan untuk berpaling. Igauanmu akan menjadi teman setia tidurku, kulitmu yang keriput menjadi penanda lamanya kisah kita, buah hati yang tumbuh dan bermain riang jadi harapan kita untuk tetap hidup. Terima kasih, semoga semuanya menjadi kisah. Kalau "Meaning of Love" versi kalian apa ? bolehlah sikit tulis di kolom komentar. Hehehe

-M. Farhan Alrasyid 

Udah segitu aja dulu, nanti yang lainnya nyusul. Kalau lagi mau itu juga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rayuan Harun

Harun adalah seorang buruh ladang sayuran. Setiap pagi, selepas melaksanakan salat Subuh, ia bergegas menuju ladang untuk menyiram dan memberikan vitamin pada sayuran. Terkadang, tugasnya adalah memetik sayuran yang dimakan oleh hama. Usianya 26 tahun, dan selama 10 tahun terakhir ia bekerja sebagai buruh ladang. Beruntung, ia memiliki tuan yang amat bijaksana. Bagi Harun, pendidikan bagaikan angin lalu—faktor ekonomi membuatnya enggan untuk melanjutkan sekolah. Di suatu malam, Harun terbangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 02.38. Entah bisikan dari mana, ia lekas mengambil air wudu dan melaksanakan salat untuk merayu Tuhan-Nya. Ia berdoa meminta keselamatan dunia dan akhirat, memohon jodoh, karier, hingga keberkahan bagi ladang yang ia urus. Dengan bercucuran air mata, ia terus menerus meminta. Hingga akhirnya, ia kembali terlelap—dan tak pernah bangun lagi. Malaikat dan Tuhan tersenyum melihat tingkahnya. Harun akhirnya tiba di tempat tertinggi. Kedua tangannya digandeng oleh m...

Bandung dan Renjana

               Jika mendengar kata bandung, benaku sering tertuju pada sebuah kota yang didalamnya terdapat jutaan kisah maupu kasih. Ada banyak hal yang ku alami dikota ini mulai dari pahit hingga manis, sedikit berlebihan sih, hingga tulisan ini dibuat, 2 tahun sudah setelah lulus sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk mengenyam pendidikan disalah satu Universitas Swasta di kota ini. Bukan tanpa sebab kota ini amat sangat berkesan bagi saya pribadi, mulai dari keluarga, kawan, lawan, kasih, kisah, akang,bapak, kakak, teteh, abah. Ahh amat sangat sukar bila di sebutkan satu persatu. Yang jelas ada banyak orang hebat yang membantu ku untuk bisa menjadi manusia yang utuh, terima kasih atas semua rangkulan dan pengakuan, semoga semuanya abadi.           Sukabumi-Bandung dan roda dua, bagiku bukan hal yang aneh, setiap saat pergi ke bandung dengan roda dua, pikiran ini seakan berkata “bandung aku datang” ...