Harun adalah seorang buruh ladang sayuran. Setiap pagi, selepas melaksanakan salat Subuh, ia bergegas menuju ladang untuk menyiram dan memberikan vitamin pada sayuran. Terkadang, tugasnya adalah memetik sayuran yang dimakan oleh hama. Usianya 26 tahun, dan selama 10 tahun terakhir ia bekerja sebagai buruh ladang. Beruntung, ia memiliki tuan yang amat bijaksana. Bagi Harun, pendidikan bagaikan angin lalu—faktor ekonomi membuatnya enggan untuk melanjutkan sekolah.
Di suatu malam, Harun terbangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 02.38. Entah bisikan dari mana, ia lekas mengambil air wudu dan melaksanakan salat untuk merayu Tuhan-Nya. Ia berdoa meminta keselamatan dunia dan akhirat, memohon jodoh, karier, hingga keberkahan bagi ladang yang ia urus. Dengan bercucuran air mata, ia terus menerus meminta. Hingga akhirnya, ia kembali terlelap—dan tak pernah bangun lagi. Malaikat dan Tuhan tersenyum melihat tingkahnya.
Harun akhirnya tiba di tempat tertinggi. Kedua tangannya digandeng oleh malaikat. Ia diperlihatkan salah satu pintu neraka. Pintu itu memancarkan aura gelap dan sesekali mengeluarkan kobaran api. Harun tak banyak berbicara. Salah satu malaikat membuka sedikit pintu tersebut. Harun menyaksikan bagaimana orang-orang yang wafat terdahulu terbenam dalam lautan api yang menyala-nyala. Ada tangan yang putus lalu tumbuh kembali, lidah panjang yang mengeluarkan api, serta berbagai siksaan lainnya sesuai dengan perbuatan mereka di dunia.
Setelah melihat pintu neraka, Harun kembali digandeng untuk menuju pintu surga. Pintu itu tampak sejuk dan beraroma harum. Saat dibuka, Harun terkejut melihat isi surga—sungai susu mengalir, buah-buahan menjuntai, dan bidadari surga menyambutnya dengan senyuman. Harun ingin sekali menjadi penghuni surga. Namun, ia merasa amat malu karena keinginannya berbanding terbalik dengan apa yang telah ia lakukan selama di dunia. Dalam hatinya, ia menyadari bahwa ia pernah merugikan orang lain, termasuk sang tuan pemilik ladang.
Ia pun berkompromi dengan malaikat, meminta kesempatan untuk memperbaiki diri agar bisa masuk ke dalam surga-Nya. Sayangnya, semuanya sudah terlambat. Keputusan akhir ada di tangan Tuhan. Sampailah Harun di pengadilan tertinggi Tuhan. Ia, bersama semua hamba-Nya, dikumpulkan di padang yang amat luas dan tak berbatas. Beberapa merasa kepanasan akibat matahari yang begitu dekat, sementara yang lain tenggelam dalam keringat mereka sendiri. Di sisi lain, Tuhan memberikan keteduhan dan rasa aman bagi hamba-Nya yang beriman.
Harun merasa bingung dengan keadaannya sendiri. Ia berada di antara dua situasi—panas di bagian perut hingga kakinya, tetapi teduh di bagian dada hingga kepalanya. Ia sesekali meminta belas kasihan Tuhan, karena jika meminta keadilan, ia merasa tak sanggup menerima akibatnya. Waktu penimbangan amal pun dimulai. Timbangan keburukan Harun lebih berat dibanding kebaikannya. Beberapa kali diperlihatkan amal baik dan buruknya, hingga akhirnya Harun pasrah. Malaikat bersiap menyeretnya menuju pintu neraka.
Namun, dugaan Harun ternyata salah besar. Ada setitik pahala jariyah yang ia miliki—saat ia memberi makan anjing liar yang hendak memakan sayuran di ladang tuannya. Selain itu, ia juga pernah menyantuni anak yatim dengan memberikan sedikit upah hasil kerjanya di ladang. Pahala-pahala kecil itu, meskipun tampak sepele, ternyata bernilai besar di mata Tuhan. Dan sebelum wafatnya, saat ia terbangun di sepertiga malam untuk salat, Tuhan telah memberikan rahmat berupa kasih sayang dan kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum nyawanya tiba di kerongkongan. Timbangan yang semula condong ke kiri, akhirnya berbalik ke kanan.
Tanpa sehelai pakaian pun menutupi tubuhnya, Harun sujud syukur. Ia bersyukur atas rahmat yang Tuhan berikan kepadanya. Malaikat kembali menggandeng kedua tangannya, mengantarkannya menuju pintu surga. Sampailah Harun di pintu surga. Malaikat membukanya, dan sambutan hangat diberikan oleh para bidadari surga. Di sana, Harun diberikan ladang gandum, kurma, dan anggur. Selain itu, jodoh yang selama ini ia impikan akhirnya Tuhan berikan—tidak terlalu tua, tidak pula terlalu muda, tetapi sepadan dengan dirinya. Tuhan bahkan memberinya kebebasan untuk memilih berapa pun yang ia inginkan, sebagai balasan atas amal baiknya di dunia.
Tamat.
Harun Mansyur
(Bukan Harun Masiku)
-
Ini hanya cerita fiksi. Mudah-mudahan aku dan kalian yang baca bisa dapet pelajaran. Nama tokoh itu mh tiba-tiba aja spontan (uhuy).
Penulis
M. Farhan Al Rasyid (Manusia biasa yang banyak dosa)
Komentar
Posting Komentar