Langsung ke konten utama

Idulfitri ditengah Pandemi

    Sebelum adanya pandemi Covid-19 Hari Raya Idulfitri merupakan momentum yang dinanti oleh seluruh umat muslim setelah berpuasa sebulan penuh. Momen-momen yang biasanya dilakukan yaitu berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara, ada juga momen dimana seseorang ataupun keluarga harus pulang kampung/mudik dari suatu kota atau daerah tertentu ke kampung halamannya. Tidak sedikit jarak yang ditempuh mampu memakan waktu yang cukup panjang untuk bisa pulang ke tempat tujuan. Oleh karena itu biasanya pemudik menggunakan berbagai macam moda jalur transportasi, mulai dari darat, laut, hingga udara. Khusus pemudik yang akan pulang ke luar provinsi biasaya sudah memesan tiket dari jauh-jauh hari, mengapa demikian? Karena harga tiket akan melonjak menjadi lebih mahal bila pemudik memesan tiket berdekatan dengan hari raya bahkan bisa jadi para pemudik kehabisan tiket. Dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, banyak pemudik yang akan pulang kampung berasal dari Ibu Kota atau Jakarta. Jumlah pemudik dari kota tersebut kurang lebih ada 300 ribu orang. Jakarta sendiri merupakan tempat dimana para perantau berkumpul untuk mencari pekerjaan atau hanya sekadar belajar melanjutkan studi nya.


    Berbanding terbalik ketika pandemi Covid 19 mulai menyebar di Indonesia. Karena adanya perbedaan perayaan Idulfitri di tahun 2020 ini dengan Idulfitri di tahun-tahun sebelumnya. Idulfitri kali ini mengharuskan perantau menerima kenyataan untuk tidak bisa pulang kampung dan harus menahan kangen untuk tidak bersua dengan keluarga di rumah secara langsung. Seain itu masyarakat juga dituntut menahan diri untuk tidak melakukan mudik demi menaati anjuran pemerintah yang mengatakan bahwa mudik di tahun 2020 ditiadakan. Karena pelarangan mudik merupakan altenatif yang diberikan pemerintah agar terputusnya virus jenis Covid-19 tersebut. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk menuntaskan kerinduan bersama keluarga di rumah, salah satunya dengan melakukan video call. Namun sangat disayangkan karena tidak sedikit perantau yang tetap nekat mudik untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga di rumah. Kurangnya kesadaran dari bahayanya virus Covid-19 ini menjadikan mereka sosok yang egois karena lebih memilih kepentingan pribadi dibanding kepentingan bersama.
 

    Pandemi Covid-19 ini membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap kebelangsungan hidup masyarakat. Banyaknya pemutusan kerja menjadi ancaman bagi angka kemiskinan yang ada di Indonesia. Meskipun begitu, pemerintah tidak tinggal diam dalam menyikapi hal tersebut karena mereka masih berupaya dengan memberi berbagai bantuan seperti sembako maupun alat pembayaran tunai. Pemerintah juga berharap kepada para masyarakat untuk bisa menahan diri agar tidak keluar rumah dan tetap menjaga jarak aman dengan orang-orang di lingkungan sekitar. Saya sendiri berharap masyarakat mendukung anjuran pemerintah agar pandemi ini segera berakhir dan tetap berdoa untuk para dokter juga perawat yang telah menjadi gerbang pertama untuk memutus rantai penyebaran virus covid-19 ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Meaning Of Love

Pada dasarnya rasa cinta kasih perlu pembuktian serta kewarasan perasaan. Sepasang kekasih akan saling senantiasa menjaga satu sama lain, perbedaan pemikiran, perbedaan status sosial, sampai perbedaan kepercayaan akan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh dua insan yang saling mencintai. Tapi, hal itu bukan menjadi suatu tembok penghalang, kekurangan dalam hal fisik dan cara pandang tetap akan bisa diterima, karena hakikatnya rasa cinta kasih terletak pada hati yang tulus. Setiap hubungan yang dijalin akan sampai pada puncak pembuktian atau suatu keikhlasan entah menikah atau berpisah. Dalam hubungan cinta kasih, akan ada seseorang yang datang dan pergi atau bisa jadi kembali, entahlah. Hal itu menjadi suatu realitas yang normal terjadi. Pada setiap hubungan yang baru terjalin akan ada “Janji suci” untuk tak saling pergi. Tapi, takdir ilahi yang menentukan. Jika diantaranya pergi, bagi sebagian orang akan menjadi suatu “Bencana hati’’ yang membutuhkan waktu untuk dilakukan prose...

Rayuan Harun

Harun adalah seorang buruh ladang sayuran. Setiap pagi, selepas melaksanakan salat Subuh, ia bergegas menuju ladang untuk menyiram dan memberikan vitamin pada sayuran. Terkadang, tugasnya adalah memetik sayuran yang dimakan oleh hama. Usianya 26 tahun, dan selama 10 tahun terakhir ia bekerja sebagai buruh ladang. Beruntung, ia memiliki tuan yang amat bijaksana. Bagi Harun, pendidikan bagaikan angin lalu—faktor ekonomi membuatnya enggan untuk melanjutkan sekolah. Di suatu malam, Harun terbangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 02.38. Entah bisikan dari mana, ia lekas mengambil air wudu dan melaksanakan salat untuk merayu Tuhan-Nya. Ia berdoa meminta keselamatan dunia dan akhirat, memohon jodoh, karier, hingga keberkahan bagi ladang yang ia urus. Dengan bercucuran air mata, ia terus menerus meminta. Hingga akhirnya, ia kembali terlelap—dan tak pernah bangun lagi. Malaikat dan Tuhan tersenyum melihat tingkahnya. Harun akhirnya tiba di tempat tertinggi. Kedua tangannya digandeng oleh m...

Bandung dan Renjana

               Jika mendengar kata bandung, benaku sering tertuju pada sebuah kota yang didalamnya terdapat jutaan kisah maupu kasih. Ada banyak hal yang ku alami dikota ini mulai dari pahit hingga manis, sedikit berlebihan sih, hingga tulisan ini dibuat, 2 tahun sudah setelah lulus sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk mengenyam pendidikan disalah satu Universitas Swasta di kota ini. Bukan tanpa sebab kota ini amat sangat berkesan bagi saya pribadi, mulai dari keluarga, kawan, lawan, kasih, kisah, akang,bapak, kakak, teteh, abah. Ahh amat sangat sukar bila di sebutkan satu persatu. Yang jelas ada banyak orang hebat yang membantu ku untuk bisa menjadi manusia yang utuh, terima kasih atas semua rangkulan dan pengakuan, semoga semuanya abadi.           Sukabumi-Bandung dan roda dua, bagiku bukan hal yang aneh, setiap saat pergi ke bandung dengan roda dua, pikiran ini seakan berkata “bandung aku datang” ...