Garis
Waktu
11 Maret 2020, pemerintah menetapkan
Covid 19 sebagai pandemi yang bisa menjangkit siapa saja tanpa mengenal batasan
umur dan jenis kelamin, hari demi hari angka yang terjangkit pandemi semakin meningkat, beberapa upaya pemerintah dalam melawan pandemi ini salah
satunya dengan menerapkan pembatasan sosial secara berkala, masyarakat dituntut
untuk menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker dan sesering
mungkin mencuci tangan. Tentunya hal tersebut sangat berdampak, semua aspek di
berbagai kalangan mulai menerapkan Work For Home (WFH). Pada bidang
pendidikan misalnya, mulai dari tingkatan dasar sampai tingkat universitas terkena dampaknya , pemerintah
secara resmi menerapkan kebijakan agar semua peserta didik dan pendidik melakukan pembelajaran
via daring demi menghambat penyebaran pandemi Covid 19, dalam proses
pembelajaran peserta didik dan pendidik dituntut untuk bisa beraptasi dengan
situasi dan kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Sampai tulisan ini dibuat tepatnya
tanggal 15 Januari 2021, pandemi ini masih enggan enyah dari hadapan semua orang.
Baca Juga: Wejangan Bapak
2020 memang tahun yang sulit bagi
semua orang, mulai dari rasa kehilangan hingga kebahagian bersatu, demi memberi kesan
yang indah. Jika melihat kebelakang, di tahun 2020 jumlah angka kematian Covid
19 hari demi hari semakin mengkhawatirkan, tenaga medis yang sejatinya
pahlawan dalam memerangi pandemi ini satu demi satu berguguran. Dilain hal,
masyarakat yang merasa suntuk menahan diri untuk tetap diam dirumah banyak yang
memaksakan untuk pergi dari rumah. Hasil yang di dapat dari hal tersebut yaitu,
angka kematian Covid 19 menunjukan angka kematian yang fantastis. Walaupun
masa sulit sedang dihadapi, tentunya masyarakat diluar sana tidak ingin berlarut-larut
dalam rasa sedih, banyak dari mereka yang melangsungkan hal bahagia yaitu pernikahan, walaupun beberapa
hal yang harus diperhatikan Seperti, tetap
menjaga protokol kesehatan hingga pengurangan jumlah orang yang hadir dalam pernikahan
tersebut. bagi sebagian orang, sang khalik seakan memberi rasa suka dan rasa tenang
pada masa sulit, orang tua yang lupa caranya untuk rehat dalam penat, hingga penantian
yang berujung khidmat, jerih payah yang selama ini dijalani akhirnya merekah ketika
diberi kesempatan untuk menikmati tangisan merdu jabang bayi.
Baca Juga : Bandung dan Renjana
Sampailah pada titik dimana semua
orang mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang sulit ini. Harapan demi
harapan dihaturka. Jika dilihat saksama, semua orang punya
pengharapan yang sama, yaitu mereka berharap semoga pandemi ini segera berlalu,
dan tatanan hidup yang makmur diharapkan tersemogakan. Tahun yang baru akhirnya
tiba, tepatnya pada tanggal 4 Januari 2021, masyarakat Indonesia dikagetkan
dengan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 tujuan Jakarta-Pontianak, yang hilang
kontak sesaat Take off 4 menit dari bandara Soekarno-Hatta. Kejadian ini
merenggut nyawa semua penumpang dan kru yang bertugas. Hal ini membuat banyak
kalangan merasa terpukul, tahun baru yang identik dengan perayaan menjadi hal
yang tidak diharapkan. Selang beberapa hari kemudian terjadi bencana alam longsor
dan banjir di Desa Cimanggung, Sumedang, Jawa barat. kejadian ini mengakibatkan
beberapa orang meninggal dunia, dan ribuan orang mengungsi ke tempat aman. Dua hari
berselang, 14 Januari 2021 Kamis pagi, publik dikagetkan dengan meninggalnya Syekh
Ali Jaber di rumah sakit Yarsi, Jakarta, setelah sebelumnya sempat dirawat 16-17
hari, beliau wafat dengan negatif Covid 19. Kamis sore publik dikagetkan
kembali dengan Banjir bandang yang menerjang Kalimantan selatan tepatnya di
kecamatan Banjar, tak lama setelah kejadian banjir bandang yang menerjang Kalsel,
kali ini bencana alam gempa bumi meratakan Mamuju, Sulawesi barat dengan
kekuatan 6.2 SR.
Baca Juga : Sang "Seniman Kopi"
Banyak
korban jiwa yang berguguran dan tidak sedikit juga kerugian material dan non
material yang dialami oleh masyarakat Mamuju dan masyarakat Kalimantan selatan.
Mungkin sebagian besar orang berharap kejadian ini yang terakhir di tahun 2021, tetapi
itu semua Tuhan yang berkehendak, manusia hanya bisa sabar dan tabah ketika menerima
cobaan. Ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dalam setiap kejadian. Covid 19,
Banjir bandang, Longsor dan kematian merupakan rentetan cobaan dari Tuhan agar
manusia selalu taat dan patuh terhadap ajaran yang Tuhan ajarkan. Semoga kita
menjadi yang manusia yang senantiasa berguna bagi sesama dan tak lupa
meninggalkan kewajiban sebagai umat beragama.
----
Penulis : M. Farhan
Komentar
Posting Komentar