Terbatas
Dua
ribu dua puluh dua segera tiba. Dunia semakin berkembang mengikuti zaman,
kehancuran moral, ahlak dan norma terjadi dimana-mana pun juga lingkungan, bencana
alam silih datang berganti, mulai dari erupsi gunung merapi sampai terkikisnya
rasa empati aktor film yang tetap berdiri ditengah duka yang terjadi. Hutan-hutan
rata dengan aspal, cagar alam dijadikan sarana hiburan bagi kaum kapitalis,
dampaknya satwa banyak yang terancam punah. Sama halnya dengan kejadian
tersebut, banyak hak-hak rakyat seolah tidak penting dan hanya jadi igauan
semata. Banyak kaum menganggap ketidakadilan di negeri yang mereka tinggali
hanya sebatas formalitas. Buruh menuntut upah yang layak, guru honorer tetap
sabar dan bekerja keras walaupun upah hanya 0,2% dari pejabat tinggi negara,
pengangguran semakin menjamur demikian juga dengan tindakan kriminalitas. upaya
memperkaya diri terus dipenuhi dengan berbagai cara.
Banyak
dari mereka yang memakasakan untuk memenuhi gaya hidup serta mengikuti tren, smartphone
yang biasanya digunakan hanya sekedar mengirim pesan di era sekarang lebih
cenderung untuk dipamerkan, sampai-sampai ada pihak yang membuka jasa penyewaan
merek smartphone terkenal harga
yang dipatok sangat beragam tergantung berapa banyak kamera yang berbaris
manis. Beberapa kalangan berpendapat dengan adanya jasa ini bak “Nafas baru”
untuk sekedar memenuhi keinginan yang bersifat fana. Dampaknya banyak dari
mereka yang terpincut dengan rayuan manis “Lintah darat” dan terjun dalam dunia
kelam agar bisa membayar bunga yang semakin membengkak.
Baca juga : Bosen kuliah di rumah terus
Universitas
dan sekolah 2 tahun terakhir bak hati seorang pujangga sepi tak bertuan. Upaya tetap
dilakukan oleh pemerintah agar kegiatan pembelajaran tetap dilakukan salah
satunya dengan melakasanakan pembelajaran Online, pada akhirnya platform
pembelajaran semakin menjamur. Kebijakan yang menimbulkan tanda tanya besarpun
terjadi di dunia pendidikan. Mahasiswa khususnya banyak mengeluhkan pembayaran
uang semesteran yang tidak ada pengurangan sedikitpun, mereka beranggapan “Pembelajaran
kami online dan tidak memakai fasilitas kampus!!” perjuangan tetap ditempuh
oleh pihak terkait agar tidak ada pihak yang dirugikan. Tapi, katanyan kuliah Online
fleksibel, gausah mandi, gausah dandan abisin Skincare, tinggal buka
HP sambil cosplay jadi kungkang. Pertemuan virtual tinggal offcam lalu lanjut
tidur, giliran tugas patokanya nunggu deadline.
Baca juga : Sudut kota Bandung
Dipenghujung
tahun semuanya serba terbatas, mulai dari akhlak terbatas, pikiran terbatas dan
jarak terbatas, hanya gaya hidup yang tetap membuas entah sampai kapan bisa merasa
pas? Semoga semuanya segera pulih, membaik dan sesuai harapan. Tetap aman dan
senantiasa selalu bermanfaat bagi sesama. Terima kasih!
Komentar
Posting Komentar