Langsung ke konten utama

Peraduan

     Empat tahun lalu punya pikiran bahwa pilihan yang udah diyakinin bakal punya hasil yang baik. Seadainya tetep maksa buat masuk ke jalan yang dipilih, mungkin sekarang gaakan dapet input buat diri sendiri yang begitu besar. Ikut ketetapan yang udah digarisin sama tuhan jadi modal awal buat mulai “Berlayar”. Adaptasi sama lingkungan baru, nemuin hal-hal berkaitan sama modal kehidupan. Mungkin kalo dari awal tetep kekeuh sama pilihan diri sendiri gaakan bisa diposisi kaya sekarang yang bikin nyaman. Banyak hal yang emang bikin sadar diri yang tentang arti kebahagiaan sama kesedihan. Sebenernya berat juga buat ninggalin itu semua, tapi pada akhirnya pikiran rasional sama realitas yang akan ngasih jarak.

Baca Juga : Namanya Juga Idup

      Kalo ditanya apa yang bikin bertahan sampai sejauh ini jawabanya “Kebersamaan” dibalik jawaban itu emang ada hal yang bikin runtuhnya ego, susah bareng, seneng bareng, melankolis bareng. Sejauh ini cuman mereka yang bisa ngertiin diri sendiri, selebihnya pergi nemuin palung yang gaada ujung gatau bakal pulang atau tetep nyaman tinggal. Its oke, mungkin lagi nyari tempat peraduaan sama modal buat di dunia yang gaada abisnya. Sekarang mah tujuan yang dari awal pergi ke peraduan udah satu selesai, tapi rasa yang sedari dari awal dibangun gaakan runtuh sekalipun gelombang pasang menerjang.

       Sebatang tembakau sama secangkir kopi udah jadi fasilitas yang megah buat ngangetin obrolan, nenangin pikiran sama perasaan yang kadang ga konsisten, kadang sampai lupa waktu kewajiban jadi manusia. Sebagai manusia yang dikasih akal, ketemu mereka udah jadi garis kehidupan yang direncanain tuhan. Diakhir tujuan awal pergi keperaduan kemarin, banyak hal yang emang ga disangka, sambutan hangat, pelukan yang erat, juga buah tangan yang begitu banyak, itu semua udah jadi obat penenang sesaat setelah kehilangan.


Akan ada masanya yang biasa nongkrong dipelataran gedung bakal pindah ke tongkrongan meja kerja masing-masing, pesan Whatsaap yang biasa ngajak kumpul bakal ketumpuk sama pesan atasan yang suka bikin mumet. Pada akhirnya kabar baik, keluh dan kesah mereka yang akan selalu ditunggu dan dinanti. Saat ini mungkin gaakan bisa barengan buat ngerayaain perpisahan tapi apa yang udah ditetapin gaakan datang telat juga gaakan datang terlambat semuanya bakal datang diwaktu yang tepat.


Baca Juga : Garis Waktu 


Mengemban gelar seorang sarjana tentu gaakan mudah patut harus dipertanggungjawabkan pada lingkungan sosial juga lingkungan pendidikan. Gelar yang diraih dengan banyak tantangan mulai dari mager, leha-leha, laptop rusak, rudet pokonya mh, tapi allhamdulilahnya bisa dilewatin berkat kebersamaan dan saling dukungan gelar itu melekat. Berpredikat IPK yang seadanya harus disyukuri jadi bekal buat berproses dan berprogres kembali untuk mencari setitik harapan dari setiap pengorbanan.

Kenangan yang udah dibangun gaakan semata-mata sirna tapi kayanya bakal tetep utuh, beberapa hal bakal bisa diratapi ada juga hal yang emang bisa dijadikan nilai. Semoga ini bukan dari akhir tapi modal untuk tetap merangkul dan memperkuat ikatan persaudaraan. See u on top guys!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Meaning Of Love

Pada dasarnya rasa cinta kasih perlu pembuktian serta kewarasan perasaan. Sepasang kekasih akan saling senantiasa menjaga satu sama lain, perbedaan pemikiran, perbedaan status sosial, sampai perbedaan kepercayaan akan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh dua insan yang saling mencintai. Tapi, hal itu bukan menjadi suatu tembok penghalang, kekurangan dalam hal fisik dan cara pandang tetap akan bisa diterima, karena hakikatnya rasa cinta kasih terletak pada hati yang tulus. Setiap hubungan yang dijalin akan sampai pada puncak pembuktian atau suatu keikhlasan entah menikah atau berpisah. Dalam hubungan cinta kasih, akan ada seseorang yang datang dan pergi atau bisa jadi kembali, entahlah. Hal itu menjadi suatu realitas yang normal terjadi. Pada setiap hubungan yang baru terjalin akan ada “Janji suci” untuk tak saling pergi. Tapi, takdir ilahi yang menentukan. Jika diantaranya pergi, bagi sebagian orang akan menjadi suatu “Bencana hati’’ yang membutuhkan waktu untuk dilakukan prose...

Rayuan Harun

Harun adalah seorang buruh ladang sayuran. Setiap pagi, selepas melaksanakan salat Subuh, ia bergegas menuju ladang untuk menyiram dan memberikan vitamin pada sayuran. Terkadang, tugasnya adalah memetik sayuran yang dimakan oleh hama. Usianya 26 tahun, dan selama 10 tahun terakhir ia bekerja sebagai buruh ladang. Beruntung, ia memiliki tuan yang amat bijaksana. Bagi Harun, pendidikan bagaikan angin lalu—faktor ekonomi membuatnya enggan untuk melanjutkan sekolah. Di suatu malam, Harun terbangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 02.38. Entah bisikan dari mana, ia lekas mengambil air wudu dan melaksanakan salat untuk merayu Tuhan-Nya. Ia berdoa meminta keselamatan dunia dan akhirat, memohon jodoh, karier, hingga keberkahan bagi ladang yang ia urus. Dengan bercucuran air mata, ia terus menerus meminta. Hingga akhirnya, ia kembali terlelap—dan tak pernah bangun lagi. Malaikat dan Tuhan tersenyum melihat tingkahnya. Harun akhirnya tiba di tempat tertinggi. Kedua tangannya digandeng oleh m...

Bandung dan Renjana

               Jika mendengar kata bandung, benaku sering tertuju pada sebuah kota yang didalamnya terdapat jutaan kisah maupu kasih. Ada banyak hal yang ku alami dikota ini mulai dari pahit hingga manis, sedikit berlebihan sih, hingga tulisan ini dibuat, 2 tahun sudah setelah lulus sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk mengenyam pendidikan disalah satu Universitas Swasta di kota ini. Bukan tanpa sebab kota ini amat sangat berkesan bagi saya pribadi, mulai dari keluarga, kawan, lawan, kasih, kisah, akang,bapak, kakak, teteh, abah. Ahh amat sangat sukar bila di sebutkan satu persatu. Yang jelas ada banyak orang hebat yang membantu ku untuk bisa menjadi manusia yang utuh, terima kasih atas semua rangkulan dan pengakuan, semoga semuanya abadi.           Sukabumi-Bandung dan roda dua, bagiku bukan hal yang aneh, setiap saat pergi ke bandung dengan roda dua, pikiran ini seakan berkata “bandung aku datang” ...