Langsung ke konten utama

Sanggar dan kehangatan

    Penuh riuh, sehari hari di lewati lalu lalang, orang berjalan kesana kemari, buku sastra hingga buku tentang pengajaran berjajar manis di dalam etalase, cimot dan jablay berlarian tanpa rasa malu, kopi hitam dan rokok garpit menjadi penenang dikala rehat dari segala aktivitas, tempat merebahkan badan dikala kelelahan menggeroti raga yang telah beraktivitas sepanjang hari, tangis, tawa, suka, duka, sesak, isak, gundah, bercampur aduk dalam satu ruangan yang penuh arti dan makna yang mendalam bagi penghuninya.

Baca juga :  Terima Kasih Ibu

    Bercengkrama, bersukaria, bersandiwara bersama akang, teteh, bapak, ayah menjadi keseharian yang tak lepas dari aktivitas. Bermain peran bersama-sama teriakan hingga rintihan perih dalam mendalami peran. Hingga akhirnya lagu kebanggan berkumandang, pemeran berjogetan tak tahu apa yang dirasa, mungkin bangga ? pastilah bangga apa yang sudah ia tampilkan dengan sepenuh rasa dan hati mendalam tak sia-sia. Petikan senar gitar dan sumbangnya suara penulis haduhhh, menjadi penyejuk bagi orang yang menikmatinya, petikan gitar membawa orang di dalam ruangan tersebut seakan-akan berhalusinasi seolah olah mereka penyanyi profesional hahah, Sekarang hanyalah kerinduan yang seketika datang tak tahu malu, juga risau menunggu kabar baik yang tak tahu kapan tiba, bangun tidur siang, tidur menjelang fajar, dan kuliah kesiangan bukan lagi hal yang tabu bagi sebagian orang yang senanng menghabiskan malamnya dengan bermain game online. Gorengan dibungkus, makannya di sanggar, pulang ke kosan tengah malam, kadang tidur di sanggar dengan berlapis matras dan harum bantal semerbak bunga bangkai, siapa juga yang tak rindu ?

Baca juga : Barista Di Kedai Kopi

    “ah dasar lemah”, “ah dasar payah”, “jangan goyah!!!” ucap pria berbadan agak besar, ia berharap agar keluarga ini tidak pecah dan tetap utamakan rasa dalam setiap keseharianya , ketika hujan lebat tiba, ketakutan berlebih jika air naik dan masuk kesela-sela lantai, semua orang panik mengemas barang bawaan. Hingga akhirnya ada relawan dengan hati lapang yang tak usah diragukan lagi kepeduliaanya datang membawa tong sampah dan ember berukuran sedang ia berujar “han, hayu picenan cai”, menyaksikan persib dan timnas indonesia di televisi berukuran sedang merupakan kegiatan yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang. Dengan setulus hati beberapa orang tampak beda menggunakan kemeja berwarna oranye, berdasi hitam, dan tak lupa juga memakai id card sebagai penanda bahwa ia bagian dari keluarga besar program studi. Mereka berupaya menjadi fasilitator yang baik bagi warga kampus yang lainya, rasa ikhlas selalu mereka utamakan, rasa bangga menjadi bagian program studi mungkin tidak akan mereka lupakan hingga usia senja.   

Baca juga : Idul Fitri Ditengah Pandemi

    Manfaat tempat ini begitu besar jika melihat jauh ke belakang hingga sekarang, tempat ini dijadikan sarana bertukar pikiran, berpendapat, sanggahan juga kritikan. Bisa dibilang tempat multi fungsi juga, kita bisa menyimpan pakaian hingga celana dalam di lemari kecil dibawah papan tulis. Ada harap juga sih, agar tempat ini tetap hangat, dan dijadikan tempat saling bertukar ilmu. Banyak orang yang tak lupa dengan tempat ini, entah profesi apapun ia sekarang, mulai dari pendidik, pebisnis, ustaz apalah itu yang jelas mereka orang orang hebat yang telah mempertahankan tempat ini. Hingga akhirnya rencana pemugaran akan dilaksanakan, dan tempat ini tidak akan lagi kokoh seperti saat ini. Semoga rencana itu hanyalah angan belaka. Terima kasih untuk orang-orang hebat yang selalu setia menjaga dan merawat sanggar bahasa milik program studi pendidikan bahasa dan sastra indonesia fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas pasundan bandung. Salam hangat, dari suara merdu penulis, agak hiperbolah sih hahahaha.  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Meaning Of Love

Pada dasarnya rasa cinta kasih perlu pembuktian serta kewarasan perasaan. Sepasang kekasih akan saling senantiasa menjaga satu sama lain, perbedaan pemikiran, perbedaan status sosial, sampai perbedaan kepercayaan akan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh dua insan yang saling mencintai. Tapi, hal itu bukan menjadi suatu tembok penghalang, kekurangan dalam hal fisik dan cara pandang tetap akan bisa diterima, karena hakikatnya rasa cinta kasih terletak pada hati yang tulus. Setiap hubungan yang dijalin akan sampai pada puncak pembuktian atau suatu keikhlasan entah menikah atau berpisah. Dalam hubungan cinta kasih, akan ada seseorang yang datang dan pergi atau bisa jadi kembali, entahlah. Hal itu menjadi suatu realitas yang normal terjadi. Pada setiap hubungan yang baru terjalin akan ada “Janji suci” untuk tak saling pergi. Tapi, takdir ilahi yang menentukan. Jika diantaranya pergi, bagi sebagian orang akan menjadi suatu “Bencana hati’’ yang membutuhkan waktu untuk dilakukan prose...

Rayuan Harun

Harun adalah seorang buruh ladang sayuran. Setiap pagi, selepas melaksanakan salat Subuh, ia bergegas menuju ladang untuk menyiram dan memberikan vitamin pada sayuran. Terkadang, tugasnya adalah memetik sayuran yang dimakan oleh hama. Usianya 26 tahun, dan selama 10 tahun terakhir ia bekerja sebagai buruh ladang. Beruntung, ia memiliki tuan yang amat bijaksana. Bagi Harun, pendidikan bagaikan angin lalu—faktor ekonomi membuatnya enggan untuk melanjutkan sekolah. Di suatu malam, Harun terbangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 02.38. Entah bisikan dari mana, ia lekas mengambil air wudu dan melaksanakan salat untuk merayu Tuhan-Nya. Ia berdoa meminta keselamatan dunia dan akhirat, memohon jodoh, karier, hingga keberkahan bagi ladang yang ia urus. Dengan bercucuran air mata, ia terus menerus meminta. Hingga akhirnya, ia kembali terlelap—dan tak pernah bangun lagi. Malaikat dan Tuhan tersenyum melihat tingkahnya. Harun akhirnya tiba di tempat tertinggi. Kedua tangannya digandeng oleh m...

Bandung dan Renjana

               Jika mendengar kata bandung, benaku sering tertuju pada sebuah kota yang didalamnya terdapat jutaan kisah maupu kasih. Ada banyak hal yang ku alami dikota ini mulai dari pahit hingga manis, sedikit berlebihan sih, hingga tulisan ini dibuat, 2 tahun sudah setelah lulus sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk mengenyam pendidikan disalah satu Universitas Swasta di kota ini. Bukan tanpa sebab kota ini amat sangat berkesan bagi saya pribadi, mulai dari keluarga, kawan, lawan, kasih, kisah, akang,bapak, kakak, teteh, abah. Ahh amat sangat sukar bila di sebutkan satu persatu. Yang jelas ada banyak orang hebat yang membantu ku untuk bisa menjadi manusia yang utuh, terima kasih atas semua rangkulan dan pengakuan, semoga semuanya abadi.           Sukabumi-Bandung dan roda dua, bagiku bukan hal yang aneh, setiap saat pergi ke bandung dengan roda dua, pikiran ini seakan berkata “bandung aku datang” ...